Agar Si Kecil Cerdas

Persaingan hidup yang kian tajam membuat para orang tua berlomba-lomba mempersiapkan anaknya. Bukan sekadar memberi seabrek latihan sejak bayi atau memilihkan sekolah unggulan belaka. Sejak dalam kandungan, mereka sudah melakukan banyak hal untuk meningkatkan kecerdasan janin.

Apa sih yang banyak dilakukan ibu hamil agar si kecil cerdas? Benarkah hal tersebut hanya mitos semata?

1. Minum susu bisa membuat bayi jadi cerdas
Fakta: Selama ini, susu lebih dikenal sebagai sumber kalsium saja. Padahal, susu juga kaya protein, vitamin A, vitamin B12, vitamin D, potasium, fosfor, serta niasin. Selain itu, susu berperan penting pada fungsi saraf, kontraksi otot, dan pembekuan darah. Bahkan, vitamin D di dalamnya bisa membantu penyerapan kalsium.

Bukan cuma itu lho. Ternyata, susu mengandung pula choline, zat gizi yang punya andil dalam penghantaran rangsang di saraf otak. Penelitian yang dimuat di Journal of The American College of Nutririon menunjukkan, ibu hamil yang mengonsumsi choline dalam jumlah cukup akan melahirkan bayi dengan kemampuan memori yang oke sepanjang hidupnya. Jadi, choline memang cukup berpengaruh terhadap perkembangan dan pusat memori pada otak janin Anda.

2. Agar si kecil cerdas, banyak-banyaklah makan ikan
Fakta: Ikan adalah salah satu sumber yodium, zat gizi yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan janin secara menyeluruh. Nah, janin yang masih sangat muda (pada trimester ke-1) belum bisa mendapat yodium dari kelenjar tiroidnya sendiri. Sementara itu, 80% dari yodium tersedia dalam kelenjar tiroid ibu. Apa jalan ke luarnya? Setiap kali butuh, ia akan mengambil zat gizi ini dari tubuh Anda melalui plasenta. Terbayang kan kalau Anda sampai kekurangan yodium.

Masalahnya, 1 dari 100 ibu hamil berisiko mengalami kekurangan yodium. Padahal, kekurangan zat gizi ini bisa berpengaruh terhadap kerja kelenjar tiroid Anda alias hipotiroidisme . Akibatnya? Yang jelas, pertumbuhan janin akan terhambat. Bahkan, bisa jadi kelak ia tumbuh lebih kerdil ketimbang teman-temannya.

Dan ternyata, seperti yang dibuktikan pada sebuah penelitian di Jerman terhadap 62 anak usia 7–9 tahun, anak-anak yang ibunya kekurangan yodium ketika hamil IQnya 4 poin lebih rendah dibanding mereka yang ibunya tidak pernah kekurangan yodium.

Selain yodium, ikan juga mengandung asam lemak, yakni DHA (asam dokosaheksanoat) yang mirip asam lemak omega–3 (zat yang dapat melindungi Anda terhadap serangan jantung). Nah, janin yang tidak mendapat DHA yang mencukupi dikhawatirkan akan menderita gangguan penglihatan dan perilaku abnormal begitu lahir. Sepanjang hidupnya, ia juga akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi, gangguan sistem kekebalan, serta kesulitan belajar. Sebagai catatan, sekitar 70% dari seluruh pertumbuhan sel terjadi pada akhir trimester ke-3. Makanya, zat ini penting juga perlu disalurkan ke janin.

3. Ibu aktif berolahraga, janin pun pintar
Fakta: Sepintas, hubungan antara kedua hal ini agak mengada-ada. Penelitian yang dilakukan oleh James F. Clapp, MD dari Case Western University di Cleveland, Amerika, membandingkan anak-anak dari ibu hamil yang berolahraga dengan ibu hamil yang tidak pernah berolahraga.

Penelitian secara berkesinambungan ini menunjukkan, setelah usia 5 tahun, anak-anak yang ibunya rajin berolahraga memiliki skor inteligensia yang lebih tinggi dalam tes inteligensia secara umum maupun dalam keterampilan berbahasa. Bisa jadi, aliran darah yang lancar selama ia berolahraga menghantar aliran oksigen yang lancar pula bagi si kecil. Perkembangan janin pun terpacu pesat.

4. Sering mengajak si kecil bicara = bayi cerdas
Fakta: Rangsangan untuk memperdengarkan bunyi-bunyian bagi janin bukannya tanpa dasar. Bahkan, penelitian menunjukkan, janin sudah bisa mendengar pada usia 6 bulan.

Quote:
Penelitian di Belanda membuktikan pula, janin yang sudah memasuki trimester ke-3, bukan hanya bisa mendengar suara, tetapi juga bisa “belajar”. Para peneliti memperdengarkan bunyi-bunyian pada janin, lalu memonitor dengan USG (ultrasonografi) untuk melihat reaksinya. Ternyata, janin bereaksi lebih cepat setiap kali mendengar bunyi-bunyian. Namun, ini tetap tidak bisa membuktikan kalau “belajar lebih dini” ini akan memberikan efek pada kemampuan inteligensinya ketika dewasa.

Meski begitu, penelitian Frances P. Glascoe, Ph.D , pengajar di Vanderbilt University, Berlin Timur, Jerman, boleh juga disimak. “Janin, bayi, maupun balita yang dibesarkan dalam lingkungan yang membiasakannya untuk berbicara dengan baik, mendengar, dan membaca, cenderung memiliki IQ yang lebih tinggi dan lebih maju di sekolah,” katanya.

5. Musik klasik bisa meningkatkan kecerdasan bayi
Fakta: Banyak orang menduga, perkembangan otak janin sangat dipengaruhi oleh kejadian di luar rahim. Jika Anda suka bernyanyi dan memainkan musik, kelak ia akan “ingat” musik tersebut. Inilah yang diungkapkan oleh Pablo Casals, pemain cello yang lahir di sebuah kota kecil dekat Barcelona, Spanyol. Pada usia 4,5 tahun, dengan mudah ia memainkan lagu-lagu, meski belum pernah membaca partiturnya. Barulah tahu dia kemudian, bahwa ibunya (juga pemain cello) sering memainkan lagu-lagu itu ketika hamil tua. Tapi, benarkah musik menjadikannya bayi yang cerdas?

“Inteligensia merupakan hal yang kompleks,” kata David Baron, Kepala Bagian Psikiatri dari Fakultas Kedokteran Universitas Temple, Amerika. Makanya, sampai sekarang, belum ada bukti bahwa musik secara langsung akan merangsang otak janin sehingga kelak bisa punya IQ tertentu. Kok begitu? “Sekitar 60–80% dari kecerdasan seseorang diturunkan secara genetik,” jelasnya.

Tapi, janin yang terbiasa mendengar musik klasik yang tenang memang cenderung jadi anak yang tenang. Ia juga gampang tidur nyenyak. Dan, tidur lelap ini ada hubungannya dengan perkembangan otak! Asal tahu saja, sel saraf di otak akan tumbuh pesat ketika bayi tidur. Kalau ia tenang, tidur pun cukup. Perkembangan otak pun jadi maksimal.

Jaga kesehatan selama hamil bisa meningkatkan kecerdasan bayi

Fakta: “Hal penting yang dapat dilakukan para ibu agar bayinya sehat, termasuk otak dan psikisnya sehat, adalah menjaga kesehatan seoptimal mungkin,” kata Lisa Elliot, Ph.D, Asisten Profesor pada Bagian Saraf di The Chicago Medical School, Amerika. Bagaimana caranya?

  • Mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang secara lengkap akan membantu perkembangan saraf otak.
  • Memperhatikan pertambahan berat badan selama hamil (untuk jelasnya, silakan lihat artikel Kehamilan Prima “Berat Badan Ibu vs Pertumbuhan Janin”). Bagaimanapun, pertambahan berat badan selama hamil ada pengaruhnya terhadap janin, termasuk juga tinggi rendahnya IQ.
  • Menghindari merokok, menenggak minuman keras, dan minum obat-obatan yang tidak perlu bisa meminimalkan gangguan pada perkembangan saraf.

Retno W. Supriyadi

Mengapa ASI Eksklusif?

Saat ini banyak sekali yang menyerukan mengenai ASI EKSKLUSIF, namun apa benar-benar telah diterapkan saat ini? apakah selaku orang tua sudah mengerti makna sesungguhnya dari ASI Eksklusif ? Sedangkan disisi lain rendahnya pemberian ASI merupakan ancaman bagi tumbuh kembang anak

ASI EKSKLUSIF
Pasal 128 ayat (1) : “Setiap bayi berhak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif sejak dilahirkan selama 6 bulan kecuali atas indikasi medis.”
Jadi pemberian ASI eksklusif = pemberian HANYA ASI selama 6 bulan (sejak bayi lahir, tanpa susu formula, tanpa air putih, ASI THOK) dan dapat terus dilanjutkan sampai dengan 2 (dua) tahun dengan memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sebagai tambahan makanan sesuai dengan kebutuhan bayi. “indikasi medis” dalam ketentuan ini adalah kondisi kesehatan ibu yang tidak memungkinkan memberikan air susu ibu berdasarkan indikasi medis yang ditetapkan oleh tenaga medis. ”indikasi medis” dapat mengacu pada ketentuan World Health Organization (WHO) No. WHO/NMH/NHD/09.01 WHO/FCH/CAH/09.01 regarding Acceptable medical reasons for use of breast-milk substitutes tahun 2009.

Lebih lanjut lagi dinyatakan bahwa selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus yang diadakan di tempat kerja dan sarana umum [Pasal 128 ayat (2) dan ayat (3)]. Kriteria fasilitas khusus di tempat kerja dan sarana umum untuk mendukung pemberian ASI dan ibu menyusui hendaknya dijabarkan lebih lanjut dalam peraturan pelaksana undang-undang dalam bentuk Peraturan Pemerintah, walaupun hal ini tidak dinyatakan dalam Pasal 128 UU Kesehatan.

PERAN PEMERINTAH secara tegas dinyatakan dalam Pasal 129 ayat (1) yang menyatakan bahwa Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif. Kebijakan yang berupa pembuatan norma, standar, prosedur dan kriteria tersebut tersebut selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Pemerintah [Pasal 239 ayat (2)]. Peraturan Pemerintah tersebut harus sudah ditetapkan paling lambat 1 (satu) tahun sejak tanggal pengundangan UU Kesehatan (Pasal 202) ini yaitu tanggal 13 Oktober 2009, sehingga PP paling lambat sudah harus dikeluarkan pada 13 Oktober 2010.

SANKSI PIDANA secara tegas dalam Pasal 200. dikenakan bagi setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian ASI eksklusif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 128 ayat (2). Ancaman pidana yang diberikan adalah pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dandenda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah)

Lebih lanjut dalam Pasal 201 dinyatakan bahwa bila tindak pidana tersebut dilakukan oleh korporasi, selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda yang disebutkan dalam Pasal 200 [berarti pidana denda bagi korporasi yang melanggar Pasal 200 adalah paling banyak Rp. 300.000.000 (tiga ratus juta Rupiah)]. Dalam Pasal 201 ayat (2) disebutkan pula bahwa selain pidana denda, korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa:

a. pencabutan izin usaha; dan/atau
b. pencabutan status badan hukum.

Di Jakarta sendiri jumlah ibu-ibu yang memberikan ASI (Air Susu Ibu) masih belum optimal. Untuk meningkatkan jumlah tersebut, diharapkan masyarakat menjadikan menyusui sebagai gaya hidup. Karena pemberian ASI eksklusif (6 bulan) tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Pemberian ASI pada bayi tidak hanya sekedar rekomendasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), tapi juga diakui oleh agama sebagai makanan bayi dan anak ciptaan Tuhan yang tidak bisa digantikan dengan makanan atau minuman lain. Selain itu ada banyak manfaat yang bisa didapatkan oleh ibu dan juga bayi jika memberikan ASI pada buah hatinya.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan, pemberian ASI di indonesia saat ini masih memprihatinkan. Presentase Bayi ASI ekslusif hanya 15,3 persen. Hal ini disebabkan kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan pemberian ASI masih relatif rendah. Terutama ibu bekerja, sering mengabaikan pemberian ASI dengan alasan kesibukan kerja. padahal tidak ada yang bisa menandingi kualitas ASI, bahkan susu formula sekalipun disertai dengan gencarnya promosi pemberian susu formula.

Memang tidak dapat dipungkiri kalau iklan susu formula itu gencar sekali. Iklan di TV terlalu menggiurkan, sehingga banyak yang salah persepsi, dan termakan iklan. Mereka memberi iming-iming bayi akan jadi montok, cerdas, sehat, dll. Cerdas tidaknya bayi kan bukan tergantung dari susu formula tapi kombinasi antara makanan sehat, stimulasi dan lingkungan.Bahkan ironisnya banyak yang berkeinginan punya bayi gemuk, padahal bayi sehat tidak sama dengan bayi gemuk.

ASI selain bisa menurunkan angka kekurangan gizi, banyak manfaat lainnya yang bisa diperoleh, seperti :

  • Bayi yang disusui memiliki penglihatan yang lebih baik. Kajian-kajian menunjukkan bahwa ketajaman visual bayi yang disusui lebih baik karena didalam ASI terkandung “lemak pintar”. ASI mengandung jenis lemak yang diperlukan untuk membentuk jaringan saraf di mata dan di otak yang lebih baik.
  • Bayi yang disusui memiliki pendengaran yang lebih baik. Bayi yang mengonsumsi susu formula lebih banyak menderita infeksi telinga tengah, dan hal ini dapat mengakibatkan timbulnya masalah pendengaran. Bahkan gangguan pendengaran sementara pun dapat mengganggu perkembangan bahasa seorang anak.
  • Bayi yang disusui memiliki senyum yang lebih baik. Karena menyusui memperbaiki penjajaran rahang dan perkembangan otot-otot wajah, anak-anak yang disusui mempunyai lebih sedikit masalah ortodonsi.
  • Bayi yang disusui bernafas dengan lebih baik. Bayi yang disusui memiliki masalah-masalah infeksi saluran pernafasan atas, asma dan alergi-alergi nasal (yang berkaitan dengan hidung) yang lebih sedikit dan lebih ringan.
  • ASI lebih mudah dicerna bayi. Karena ASI dirancang khusus untuk bayi manusia, ASI lebih mudah dicerna daripada susu formula. ASI lebih cepat dicerna dalam perut manusia, yang membuat bayi yang disusui akan lebih jarang mendapat masalah dengan gastroesophagael reflux (GER), mengalirnya secara berulang-ulang cairan-cairan perut ke esophagus bagian bawah. GER adalah suatu hal yang biasanya, meskipun tersembunyi menyebabkan kolik dan terbangun di malam hari dengan kesakitan.
  • ASI melindungi usus yang belum matang. ASI mengandung substansi-substansi yang bertindak seperti cat pelindung, melapisi alat pencernaan makanan untuk mencegah masuknya bakteri ke dalam aliran darah. Lingkungan yang lebih ramah ini berarti bayi yang disusui mempunyai lebih sedikit masalah dengan infeksi-infeksi usus dan diare. Bayi yang disusui juga jarang mengidap alergi makanan, karena mereka terlindung dari kontak dengan protein-protein luar yang menyebabkan timbulnya lapisan usus.
  • Bayi yang disusui memiliki kulit yang lebih sehat. Mereka jarang merasakan alergi, kulit kasar, kulit kering, bercak-bercak seperti ampelas sebagaimana yang ditemukan pada sejumlah bayi pengonsumsi susu formula.
  • Bayi yang disusui jarang tumbuh menjadi dewasa yang mengalami obesitas. Menyusui mengajarkan tentang pola makan sehat sejak awal. Bayi belajar untuk menyesuaikan jumlah makanan yang mereka makan dengan selera makan mereka, tanpa perlu ada yang memerintahkan mereka untuk menghabiskan 100 ml terakhir. Para bayi yang disusui cenderung tanpa lemak (hanya mempunyai jumlah lemak yang sesuai untuk berat badan mereka) daripada teman-teman mereka yang meminum susu formula.
  • Bayi yang disusui terlindung dari banyak penyakit. Terdapat keterkaitan antara menyusui dengan kemunculan yang lebih rendah dari hampir setiap jenis penyakit menular, termasuk meningitis bacterial, infeksi saluran kencing, dan keracunan makanan yang terjadi pada bayi.
  • BAGI IBU : Menyusui membuat ibu menjadi lebih sehat. Setidaknya satu kajian telah memperlihatkan bahwa tingkat depresi pasca melahirkan para ibu menyusui tampak lebih rendah. Kajian lain juga menunjukkan bahwa menyusui mengurangi resiko timbulnya kanker payudara, kanker rahim dan kanker ovarium. Banyak juga wanita yang merasakan bahwa menyusui membantu mereka mengurangi berat badan pasca melahirkan.

Fakta lain keuntungan pemberian ASI :

  • 6-8 kali lebih jarang menderita kanker anak (leukemia limphositik, Neuroblastoma, Lympoma Maligna)
  • Risiko dirawat dengan sakit saluran pernapasan 3 kali lebih jarang dari Bayi yang rutin konsumsi susu formula
  • Sebanyak 47 persen lebih jarang diare
  • Mengurangi risiko Alami kekurangan gizi dan vitamin
  • Mengurangi risiko kencing manis
  • Lebih kebal terkena alergi
  • Mengurangi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah
  • Mengurangi penyakit menahun seperti usus besar
  • Mengurangi kemungkinan terkena asma
  • Mengurangi risiko terkena bakteri E sakazakii dari bubuk susu formula yang tercemar

Komposisi ASI dengan susu formula sangat berbeda. Susu formula terbuat dari susu sapi, maka lebih banyak mengandung protein yang bermanfaat untuk perkembangan otot. Hal ini karena sapi butuh otot kuat agar bisa menghasilkan banyak energi, sementara ASI mengandung tinggi laktosa yang penting untuk perkembangan otak manusia.

Kerugian pemberian susu formula:

  • Komposisinya tidak sesuai karena bahan dasarnya adalah susu sapi.
  • Tidak mempunyai manfaat seperti ASI.
  • Bisa terjadi salah pengenceran.
  • Kemungkinan terjadi kontaminasi.
  • Dapat menyebabkan gejala alergi.
  • Dapat menyebabkan diare akut, yang dapat berlanjut menjadi diare kroni
  • Penggunaanya bisa saja berdasarkan indikasi yang salah

Faktor lain yang mempengaruhi adalah belum optimalnya penerapan 10 langkah menuju keberhasilan menyusui (10 LMKM) serta kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya ASI.

10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) yang dianjurkan oleh Menteri Kesehatan (Menkes), Endang Rahayu Sedyaningsih, di antaranya:

  1. Fasilitas pelayanan kesehatan mempunyai kebijakan peningkatan pemberian Air Susu Ibu (PP-ASI) tertulis yang secara rutin dikomunikasikan kepada semua petugas.
  2. Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan dan keterampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut.
  3. Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan, maka bayi lahir sampai umur 2 tahun termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui.
  4.  Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 60 menit setelah melahirkan, yang dilakukan diruang bersalin. Apabila ibu mendapat operasi caesar, bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar.
  5. Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang ebnar dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis.
  6. Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir.
  7. Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari.
  8. Membantu ibu menyusui semau bayi semau ibu, tanpa pembatasan terhadap lama dan frekuensi menyusui.
  9. Tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi yang diberi ASI.
  10. Mengupayakan terbentuknya kelompok pendukung ASI (KP-ASI) dan rujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari Rumah Sakit atau Rumah Bersalin atau Fasilitas pelayanan kesehatan.

Dengan mewujudkan pelaksanaan 10 LMKM tersebut akan berkontribusi pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia di masa mendatang. Mestinya kita segera menyadari bahwa, sebenarnya kita masih terpuruk dalam mencapai angka kematian bayi sesuai dengan target Millennium Development Goals (MDGs) sasaran 4 pada tahun 2015 yang harus dicapai sebesar 23 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup, sementara baru mencapai sebesar 34 kematian bayi per 1000 kelahiran hidup (Survai Demografi dan Kesehatan Indonesia, 2007). Jangan sampai sulitnya menurunkan angka kematian bayi tersebut sebenarnya didominasi karena faktor kesengajaan, “mencekoki” bayi-bayi kita dengan susu sapi bukan ASI!

Sebagai informasi, walaupun pabrik susu formula diproduksi dan berdiri dengan megahnya dimasing-masing negara asalnya (luar negeri), namun perlakuan pemerintahnya terhadap penggunaan susu formula sendiri seperti penggunaan obat..jadi tidak sebebas di negara kita ini, yang dijual bebas disupermarket ataupun toserba.

Sumber: dr. Jhunz

ASI Eksklusif

ASI Eksklusif adalah pemberian Air Susu Ibu saja kepada bayi yang berumur 0 – 6 bulan tanpa diberikan makanan atau minuman tambahan selain obat untuk terapi (pengobatan penyakit).

MANFAAT ASI
Ada 2 macam, yaitu :

1. Untuk Ibu

  • Membantu proses pemulihan setelah melahirkan
  • Mencegah perdarahan
  • Salah satu cara ber-KB
  • Mencurahkan kasih sayang kebayi

2. Untuk bayi

  • Menambah kekebalan pada tubuh bayi sehingga bayi tidak mudah sakit
  • Mudah dicerna bayi

ZAT KEKEBALAN yang terdapat pada ASI yaitu :

  • Membantu proses pencernaan
  • Mencegah terserang penyakit

Cara Pemberian Asi Saja Oleh IBU BEKERJA yaitu :

  1. Sebelum berangkat bekerja bayi harus disusui.
  2. Kemudian Asi diperas

Cara memeras Asi :
Memeras Asi dengan menggunakan tangan :

  • Tangan dicuci sampai bersih
  • Siapkan cangkir/gelas bertutup yang telah dicuci dengan air mendidih
  • Payudara dikompres dengan kain handuk yang hangat dipijat dengan lembut dengan menggunakan tangan dari pangkal kearah ujung payudara
  • Kemudian dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk kalang payudara diperas, tapi jangan dipijat karena bisa menyebabkan rasa nyeri.
  • Ulangi tekan – peras – lepas – tekan – peras – lepas
  • Pada mulanya ASI tak akan keluar, setelah beberapa kali maka ASI akan keluar.
  • Gerakan ini diulang pada sekitar kalang payudara pada semua sisi, agar yain bahwa ASI telah diperas dari semua payudara.
  • Bila mungkin ibu pulang untuk menyusui bayinya.
  • Bayi lebih sering setelah ibu pulang kerja dan pada malam hari.
  • Tidak menggunakan susu formula pada hari libur
  • Tidak mulai bekerja terlalu cepat setelah melahirkan, tunggu 1 – 2 bulan untuk meyakinkan lancarnya produksi ASI dan masalah pada awal menyusui telah teratasi. Kalau ibu ingin memberikan susu formula dengan menggunakan botol maka dapat dicoba setelah ibu yakin bahwa bayinya telah mampu menyusu ada ibu dengan baik, untuk menghindari bayi bingung putting.

PENYIMPANAN ASI
Asi yang dikeluarkan dapat bertahan diudara terbuka/bebas selama 6 – 8 jam, di lemari es 24 jam, dilemari pendingin 6 bulan (bila Asi disimpan dalam lemari es, tidak boleh dipanasi karena nutrisi yang ada dalam Asi akan hilang, cukup didiamkan saja).

Macam – macam Asi :
1. Kolostrum
Merupakan cairan yang pertama kali keluar, berwarna kekuning – kuningan. Banyak mengandung protein, antibody (kekebalan tubuh),
2. Air Susu Masa Peralihan
Merupakan ASI peralihan dari kolostrum menjadi ASI matur. Terjadi pada hari ke 4 – 10, berisi karbohidrat dan lemak dan volume Asi meningkat.
3. Air Susu Matur
Merupakan cairan yang berwarna putih kekuningan, mengandung semua nutrisi. Terjadi pada hari ke 10 – seterusnya.

PP ASI Eksklusif

Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia Nomor 33 tahun 2012 mengenai Pemberian ASI Eksklusif akhirnya disahkan. PP ini akan mengatur mengenai hak dan kewajiban para pemangku kepentingan dalam memenuhi pemberian ASI ekslusif bagi bayi.

“Peraturan pemerintah ini disahkan guna menjamin pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan sumber makanan terbaik (ASI) sejak dilahirkan sampai berusia 6 bulan,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Kesehatan Murti Utami dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Selain itu, PP ASI itu akan menjamin perlindungan Ibu dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayinya, tambah Murti.

Peraturan itu membahas mengenai Program Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif, Pengaturan penggunaan susu formula dan produk bayi lainnya, Sarana menyusui di tempat kerja dan sarana umum lainnya, Dukungan Masyarakat tanggung jawab Pemerintah, Pemerintah Daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota dalam serta pendanaannya.

Murti menjelaskan, peraturan itu sangat dibutuhkan untuk memastikan agar pola pemberian makan untuk bayi hingga usia 2 tahun tidak terhambat dengan kondisi lain seperti tidak adanya ruang menyusui di kantor.

Ia memaparkan pola pemberian makan terbaik untuk bayi sampai anak berumur 2 tahun meliputi pemberian ASI kepada bayi segera dalam waktu 1 jam pasca kelahiran melalui Inisiasi Menyusu Dini (IMD), memberikan hanya ASI saja sejak lahir sampai umur 6 bulan tanpa menambah atau mengganti dengan makanan atau minuman lain, memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat sejak usia 6 bulan serta meneruskan pemberian ASI sampai anak berumur dua tahun.

ASI telah dibuktikan dapat menurunkan risiko bayi terkena infeksi akut dan penyakit kronis di masa mendatang.

“Karena itu, setiap Ibu melahirkan dianjurkan dapat memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya, kecuali dalam kondisi tertentu, seperti adanya indikasi medis, ibu tidak ada atau ibu terpisah dari bayi,” kata Murti.

Ia kemudian mengharapkan agar dukungan berbagai pihak mulai dari Pemerintah, Pemda Provinsi dan Kab/Kota, Penyelenggara Pelayanan Kesehatan, Tenaga Kesehatan, masyarakat serta keluarga terdekat ibu dapat diberikan untuk menyukseskan keberhasilan pemberian ASI Eksklusif.

Sumber: Harian Republika 04/02/2012