Seri PAUD: Membangun Sosial Emosi Anak di Usia 2-4 tahun

 

PENTINGNYA MEMAHAMI PERKEMBANGAN ANAK

Pada rentang usia 2-4 tahun, anak menunjukkan perubahan di seluruh aspek perkembangannya. Dari bayi yang sangat bergantung pada orang lain menjadi anak mandiri dan mampu bergerak bebas ke mana pun. Dari hanya bisa menangis, sekarang dapat berbincang-bincang dengan asyik mengenai banyak hal dengan ibu-bapak. Demikian pula perkembangan sosialnya. Pada rentang usia ini anak menikmati sekali bermain dengan teman sebayanya. Anak pun belajar berbagai keterampilan sosial dalam berhubungan dengan lingkungan sosialnya.

Terdapat empat aspek perkembangan anak yang dibahas, yaitu : aspek gerakan kasar dan gerakan halus, bahasa, kecerdasan, dan sosial-emosi. Semuanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Pemahaman yang menyeluruh dan seimbang terhadap aspek perkembangan akan lebih berdaya guna dibandingkan hanya terpusat pada satu aspek saja. Setiap kegiatan perangsangan yang diberikan di dalam buku ini bisa memberikan dampak pada beberapa aspek dan bermanfaat bagi perkembangan kemampuan anak.

Penting diingat, bahwa tujuan utama memahami tahap perkembangan anak adalah agar dapat melakukan perangsangan yang berguna. Pelaksanaannya dapat dengan berbagai cara dan variasi. Untuk itu, ibu–bapak dituntut banyak ide dalam merangsang perkembangan anak.

Setiap anak adalah unik dan ibu–bapak harus dapat memahami keunikannya. Hindari memaksa anak melakukan kegiatan yang barangkali belum dikuasainya. Apalagi bila orangtua merasa bahwa anak lain yang seusia dengan anaknya sudah dapat melakukan. Cobalah untuk mengulangi kegiatan yang sama beberapa kali dengan diberi rentang waktu.

PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSI PADA USIA 2 – 4 TAHUN

Seperti area perkembangan yang lain, pada periode ini anak juga mengalami perubahan dalam aspek sosial-emosi. Identitasnya mulai tampak, ia memiliki karakter kepribadian sendiri. Sudah mulai tampak kekuatan dan kelemahan kemampuannya, serta pola hubungannya. Ia pun sudah menunjukkan kemandiriannya dan berusaha mengatur dirinya sendiri.

Beberapa area utama dari perubahan aspek sosial-emosi yang berlangsung pada diri anak adalah :

  • Pertemanan. Anak ingin disukai oleh teman-temannya. Ia ingin bisa bermain dengan sebanyak mungkin teman. Anak mulai memahami bahwa fungsi pertemanan termasuk didalamnya aturan untuk berbagi, memberi dukungan, bergantian, dan berbagai keterampilan sosial lainnya.
  • Kemandirian. Anak meningkatkan usaha agar dapat melaksanakan tugas-tugas yang berkaitan dengan kegiatannya sehari-hari. Peran ibu dan bapak sebagai orangtua sangat penting. Anak membutuhkan kesempatan untuk berlatih mandiri agar pekerjaannya menjadi lebih baik.
  • Moralitas. Anak mulai mengenali yang salah dan benar. Ia mulai memahami tentang berbohong dan mengapa ia tidak boleh berbohong. Meski beberapa kali anak masih berusaha untuk menyelamatkan dirinya dengan berbohong.

Karakter yang ditampilkan oleh anak pada rentang usia ini membuat ibu dan bapak dapat melihat tipe kepribadian anak. Tantangan yang dihadapi adalah bukanlah untuk mengubah ciri kepribadian anak, tetapi memberikan penguatan pada ciri yang positif. Sebagai contoh, bersikap teguh pada keputusan adalah satu ciri kepribadian yang baik. Namun, bila membuat susah orang lain, tentu menjadi tidak tepat. Jadi anak pun harus belajar menentukan pada situasi seperti apa, perilakunya harus menyesuaikan tanpa mengubah kepribadiannya.

Ini berarti ibu dan bapak sebagai orangtua harus menerima anak apa adanya, dengan segala keunikan yang membuatnya menjadi istimewa. Anak membutuhkan dukungan dan panduan ibu dan bapak pada saat ini. Bukan kritikan dan keberatan, untuk mengembangkan potensi sosial-emosinya. Kebutuhan dasar anak untuk disayangi dan dihargai akan semakin kuat. Anak juga membutuhkan persetujuan ibu-bapak akan sikapnya.

PERANGSANGAN SOSIAL-EMOSI USIA 2 – 3 TAHUN

Di usia ini anak mungkin merasa cemas ketika berpisah dengan ibu dan bapaknya untuk beberapa saat. Kecemasan ini akibat kedekatan dengan ibu dan bapaknya. Anak memiliki bayangan atau khayalan yang mengkhawatirkan dirinya tanpa keberadaan ibu – bapak. Jika anak tampak ingin menangis ketika menyadari akan ditinggal oleh ibu – bapak, cobalah untuk menenangkan anak sebelum berangkat. Tidak usah sembunyi-sembunyi atau justru menertawakannya. Anak memerlukan pelukan hangat ibu-bapak. Selain juga kepastian bahwa ibu-bapak akan kembali secepatnya serta mendengarkan ceritanya selama ibu-bapak tidak ada. Kemudian, tinggalkan anak, tidak usah risau apakah ia menangis atau tidak. Bila ibu-bapak menunggu sampai anak mau melepaskan dengan sukarela, malah membuat situasi makin menekan untuknya.

Untuk urusan berbagi, anak sudah mampu memahaminya dengan baik, meskipun pada prakteknya masih mengalami kesulitan. Bicaralah kepadanya dan latih untuk berbagi di bawah pengawasan ibu-bapak.

  • Mendapatkan rasa berharga. Keberhasilan anak akan memberikan perasaan percaya diri bahwa anak mampu melakukan sesuatu. Jadi, jika mendapati anak sedang berusaha untuk meningkatkan kemandirian, berikan dukungan dan bila perlu panduan. Anak harus merasakan berhasil dan itu akan membuatnya menikmati kegiatan.
  • Berlatih sopan santun. Banyak hal yang belum diketahui anak. Misal, berteriak-teriak menuntut keinginan dituruti adalah sikap yang tidak baik. Ia bergantung pada ibu-bapak untuk memberitahunya dan melatih sopan santun di usia ini. Cara belajar yang paling tepat adalah dengan memberikan contoh berperilaku yang dilihat oleh anak dan ia akan menirunya.
  • Mengatasi rasa malu. Jika tiba-tiba anak bersikap merajuk dan tidak mau berkegiatan di tempat baru karena malu, berikan dukungan bahwa ia akan melakukan aktivitas yang menyenangkan.

PERANGSANGAN SOSIAL-EMOSI USIA 3 – 4 TAHUN

Topik utama anak pada usia ini adalah berteman. Ia senang berhubungan dengan orang lain dan keterampilan sosialnya berkembang dengan berarti. Relasinya dengan teman-teman sebaya mengembangkan rasa percaya dirinya. Itu membuatnya tidak terlalu malu bila bertemu dengan teman atau orang dewasa yang baru dikenalnya. Kemandiriannya pun berkembang baik. Anak sudah mampu melakukan dengan baik kegiatan di kamar mandi, seperti buang air kecil atau cuci tangan. Demikian pula dengan kegiatan bantu diri seperti mengenakan pakaian atau makan sendiri.

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk mendukung sikap baik anak terhadap orang lain. Ibu dan bapak dapat menunjukkan bahwa sikapnya yang peduli sangat berarti bagi orang lain. Contoh, jika ia tidak hanya membawakan kue untuk dirinya sendiri tapi juga untuk ibu-bapak. Sampaikan kepada anak, bagaimana senangnya perasaan ibu-bapak. Anak akan berperilaku baik kepada orang lain jika ia menyadari dampak dari perilakunya. Misal, berikan pujian kepada anak ketika ibu-bapak melihatnya membantu teman. Periode ini adalah saat yang tepat untuk mengembangkan keterampilan bantu dirinya. Anak sudah dapat berlatih mengendalikan keinginannya untuk buang air kecil di siang hari dan ini saat yang tepat baginya untuk berlatih agar tidak mengompol di malam hari. Kuncinya adalah pada ketetapan dari ibu-bapak. Selain juga dukungan bahwa ia bisa melakukannya dengan baik.

Beradu pendapat sering terjadi pada anak usia ini. Anak perlu mengetahui dan memahami cara beradu pendapat tanpa penyerangan. Reaksi awal ketika anak menghadapi penolakan dari temannya dapat berupa penyerangan fisik, seperti memukul, meninju, atau menggigit. Selain itu, dapat juga berupa penyerangan non lisan, misalnya berteriak atau mengejek. Bantu anak untuk mengatasi perilaku menyerang sehingga dapat mengatasi konflik dengan cara yang tidak merugikan orang lain. Berikan penjelasan kepada anak bahwa ibu-bapak sangat tidak setuju pada perilaku menyerangnya terhadap orang lain. Ini penting diketahui oleh anak. Jelaskan pula bahwa temannya akan marah dan tidak mau bermain lagi dengannya bila ia bertindak menyerang.

Ibu dan bapak dapat berlatih bersama anak cara menyampaikan perasaannya kepada orang lain tanpa bersikapmenyerang . Misalnya, ketika ada temannya yang ingin merebut mainan, minta anak untuk mengatakan, “Aku sedang main dengan mobil-mobilan ini. Nanti gantian kalau aku sudah selesai ya.” Bila perilaku ini tidak berhasil, maka anak dapat meminta bantuan kepada orang dewasa yang terdekat untuk membantu menyelesaikan persoalan ini.

Kegiatan perangsangan yang dapat dilakukan:

  • Baca buku cerita dengan tema sosial. Temanya tentang berbagi mainan dan bermain bersama. Tema ini akan membantu anak untuk berpikir mengenai pertemanan yang ia lakukan. Ibu dan bapak juga bisa membantunya dengan memberikan pertanyaan atau berdiskusi mengenai tema tersebut.
  • Hindari permainan dengan senapan atau pistol. Bukti dari penelitian menunjukkan bahwa anak yang bermain dengan mainan yang masuk kelompok senjata tajam juga menunjukkan perilaku menyerang ketika berhubungan dengan temannya. Demikian pula jika menonton tayangan yang mengandung unsur penyerangan. Meskipun itu hanya film kartun, anak pun akan menirunya. Ingatlah bahwa anak belajar dari meniru.
  • Hindari memotong pembicaraan. Lambat laun anak akan mempelajari bahwa bercakap-cakap dengan orang lain membutuhkan keterampilan mendengar. Jika ia memotong pembicaraan ibu-bapak, acuhkan saja tetaplah berbicara sampai kalimatnya selesai. Setelah itu, berikan kesempatan kepadanya untuk berbicara. Anak akan memahami bahwa untuk berbicara pun ia harus bergantian.

 

PESAN UNTUK IBU-BAPAK

Memang paling mudah adalah melihat kelemahan atau ketidak-mampuan seseorang. Demikian juga pada anak. Seringkali orangtua lebih memusatkan perhatian pada apa saja yang tidak bisa dilakukan anak. Misalnya, anak masih belum bisa menahan diri untuk tidak berteriak ketika merasa kesal. Ibu dan bapak pun menjadi lebih perhatian pada perilaku berteriak anak. Padahal ketika anak sedang tidak kesal, ia bisa berbagi dan menunjukkan kepeduliannya terhadap orang lain. Ibu dan bapak dapat menggunakan perilaku baik yang ditampilkan oleh anak dalam mengatasi perilaku negatifnya. Jika anak berperasaan negatif, cobalah untuk memberikan sisi positifnya tanpa memuji anak berlebihan. Dengan demikian diharapkan anak tidak lagi beranggapan bahwa dirinya tidak baik, tetapi dengan bantuan ibu – bapak anak bisa mengubah sikapnya.

Ilman Saputra, SH
Alzena Masykouri, M. Psi

Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal
Kementerian Pendidikan NasionalTahun 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s