Cerita Mbah Hadi Tutup Usia

Innaalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun

Satu lagi warga RW 16 telah berpulang ke rahmatullah. Beliau adalah Mbah Hadi Sudarmo atau Mbah Hadi Kamin, warga RT 60. Beliau meninggal pada hari Ahad, 10 Juni 2012 pada pukul 12.00 dalam usia 83 tahun.

Cerita meninggalnya Mbah Hadi ini sangat menarik dan dapat dijadikan sebuah ibrah.  Seperti biasanya, saat hendak masuk waktu shalat dzuhur, beliau sudah berjalan menuju masjid. Sebelum berangkat ke masjid, beliau berpesan kepada Mbah putri (Mbah Siyaminah, istri beliau),

“Mbah, aku ora arep mangan meneh, jenange sik tak tuku  mau panganen, nek kowe doyan” (Mbah, aku sudah tidak akan makan lagi, bubur yang aku beli tadi kamu makan saja kalau mau).

Setelah itu beliau berangkat ke masjid. Namun entah karena beliau saat itu sedang sakit, beliau berjalan sangat pelan, bahkan berkali-kali harus berhenti untuk istirahat, hingga iqamah dikumandangkan beliau belum sampai masjid.

Saat beliau berhenti di pojok belakang TK ABA Karanganyar, beliau berhenti dalam keadaan berdiri berpegangan pada pagar tempat bermain. Pada saat itu dari arah belakang beliau ada Pak Widodo, Ketua RT 60 yang juga hendak menunaikan shalat dzuhur di masjid. Entah juga mengapa, Pak Widodo yang biasanya berjam’ah di Musholla Al Muthohar pada saat itu keinginan hatinya menunaikan shalat di masjid Al Irsyad. Saat beliau hendak melewati Mbah Hadi yang saat itu dalam keadaan berdiri berpegangan pagar, Pak Widodo menyapa dan hendak menolong Mbah Hadi,

“Pripun Mbah, nek sayah kulo gandeng nopo?” (Kalau capek saya gandeng gimana mbah?).

Saat itu Mbah Hadi diam saja masih berdiri. Karena sudah iqamah dan Mbah Hadi tidak merespon Pak Widodo, akhirnya Pak Widodo mendahului mbah Hadi.

“Pun nggih mbah, nek ngaten kulo ngrumiyini”. Pak Widodo pun berlalu dari hadapan Mbah Hadi.

Saat shalat dzuhur usai, Pak Widodo pulang dengan melalui jalan yang sama saat berangkat. Di tempat bertemu dengan Mbah Hadi, Pak Widodo melihat mbah Hadi masih berada disitu, namun sudah dalam keadaan tergeletak. Lantas beberapa orang berdatangan ke TKP. Ternyata saat itu Mbah Hadi sudah tiada, meninggal saat perjalanan hendak menunaikan shalat dzuhur di masjid. Innaalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun.

Mbah Hadi adalah sosok yang tekun dalam menjalankan ibadah. Shalat 5 waktu tidak pernah ia tinggalkan dan ia tunaikan selalu dengan berjama’ah di Masjid Al Irsyad Karanganyar yang jarak dari rumahnya kurang lebih 200 meter. Setiap kali menjelang adzan, beliau sudah berangkat ke Masjid. Setiap ada pengajian rutin di Masjid dan dimanapun diadakan pengajian di Kampung Karanganyar, beliau nampak selalu hadir.  Kehidupannya sangat sederhana, namun ia jalani dengan penuh semangat, meski kondisi fisiknya sudah uzur dan jalannya sudah tertatih-tatih. Profil “orang desa” masih nampak dalam kehidupannya meski ia hidup di kota. Pribadi beliau “Prasaja”, begitulah orang jawa menyebutnya, meski beliau orang yang berpendidikan rendah. Dalam kehidupan Mbah Hadi yang penuh dengan kesederhanaan, keluguan dan hidup seadanya, bagi orang yang sering bergaul dengan beliau akan sangat terasa sekali betapa pribadi beliau penuh dengan kebersahajaan, apalagi saat beliau telah pergi (berurai air mata saat menuliskan ini).

Kecintaan Mbah Hadi pada keluarga juga sangat besar. Anak-anaknya yang berjumlah 4 orang sudah menikah semua dan Mbah Hadi hidup hanya berdua dengan istrinya, Mbah Siyaminah. Pada pagi hari pkl 05.30 beliau membelikan bubur untuk istrinya dan untuk beliau sendiri di bilangan jalan sisingamangaraja yang jaraknya kurang lebih 250 meter dari rumahnya. Hampir setiap pagi beliau berjalan kaki membelikan bubur istrinya meski dengan “thuyuk-thuyuk” jalannya. Hingga menjelang akhir hayat pun pada Ahad tgl 10 Juni 2012 beliau masih melakukan itu.

Akhir hayat Mbah Hadi, sebuah akhir hayat yang dirindu oleh setiap orang. Meninggal dalam keadaan sedang menunaikan amal sholeh, hendak pergi ke Masjid menunaikan shalat, artinya dalam hati dan pikiran Mbah Hadi sudah terlintas bayangan sedang shalat berjama’ah di masjid. Beliau meninggal  tanpa sebab yang memberatkan dirinya sendiri dan keluarganya serta tidak membuat ribet orang lain. Semoga akhir hayat Mbah Hadi dengan keadaan yang demikian betul-betul menjadi pertanda akhir hayat yang Khusnul Khotimah. Amiin.

Sedikit pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas bagi yang masih hidup antara lain:

  • Meski sudah uzur dan keterbatasan kondisi fisik, Mbah Hadi selalu menjaga shalat berjama’ah, meski jarak dari rumah ke masjid cukup jauh.
  • Berkaitan dengan kematian, tak seorang pun tahu hingga usia berapa kita diberikan kesempatan hidup di dunia dan dalam keadaan apa kita dijemput malaikat Izrail. Oleh karena itu, memperbanyak amal sholeh dan melakukan kebaikan adalah hal yang semestinya harus kita lakukan dari waktu ke waktu hingga akhir hayat, karena hidup di dunia hanya sekali dan tidak bisa terulang.

—————————

Kepada Keluarga Mbah Hadi Sudarmo, Pengurus RW dan RT turut berbela sungkawa atas meninggalnya Mbah Hadi. Semoga seluruh amal kebaikan beliau diterima Allah SWT, diampuni dosa serta kesalahan beliau dan meninggalnya beliau dalam keadaan Khusnul Khotimah. Amiin.

One response to “Cerita Mbah Hadi Tutup Usia

  1. Alloohummaj ‘al khoiro ‘umrinaa aakhirohu, wa khoiro ‘amalinaa khowaatimahu, wa khoiro ayyaaminaa yauma alqooka fiihi.. Ya Allah jadikanlah umur trbaik kami di akhirnya dan amal trbaik kami di pnghujungnya dan jadikanlah hari-hari trbaik kami, pada hari itulah kami mninggal brtmu dngan-Mu
    aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s