Nukilan Kisah Hidup Mbah Sis Sebelum Meninggal

SAM_1472 (Medium)Mbah Siswo Sudibyo yang pada waktu kecilnya bernama Suratidjo, adalah sosok yang sangat bersahaja, penuh ketulusan, tidak mau merepotkan orang lain dan selalu welas asih kepada sesama. Hingga usia beliau yang mencapai 88 tahun, kehidupan beliau sehari-hari sangat sederhana dan apa adanya, meskipun keluarga beliau tergolong orang yang lebih dari cukup, namun beliau memilih untuk hidup sendiri di rumah yang beliau tempati bersama-sama dengan istri beliau, simbah Sa’adah yang telah lebih dulu meninggal kurang lebih 6 tahun yang lalu. Sepeninggal istri beliau, Mbah Sis memilih tetap bertempat tinggal di rumahnya di RT 58 RW 16 Karanganyar, meskipun ada puteri beliau yang mau merawatnya.

Di masa hidup beliau bersama istri, beliau sangat setia mendampingi mbah Sa’adah. Bahkan saat mbah Sa’adah sudah tidak dapat berjalan karena sakit dan faktor usia, beliau tetap setia mengantarkan mbah Sa’adah dengan mendorong kursi roda kemanapun yang dikehendaki istri beliau, meskipun dengan badan yang bungkuk karena usia yang sudah lanjut.

Keseharian Mbah Sis sepeninggal istri beliau hanya ditemani 3 ekor burung peliharaan beliau, burung Perkutut. Setiap pagi sebelum subuh burung-burung tersebut bersuara/mendekur seolah sebagai tanda membangunkan Mbah Sis dari tidurnya. Meskipun dengan badan yang sudah bungkuk karena usia yang sudah lanjut, beliau dengan penuh kasih sayang merawat burung-burung tersebut. Setiap 2 hari sekali memberinya makan dan minum bila sudah terlihat makanan dan air untuk minum burung tersebut sudah mau habis. Terkadang sore hari menyiram tanaman di depan rumah beliau. Puteri kedua beliau yang bernama Ibu Sukarni yang bertempat tinggal di daerah Tamanan, Bantul, yang berjarak kurang lebih 5 kilometer setiap hari menjenguk beliau sambil membawakan makanan sekaligus membersihkan rumah beliau. Demikian pula Puteri pertama beliau, Ibu Endang yang bertempat tinggal di Kampung Nagan, kadang menjenguk beliau dengan membawakan makanan pula. Bahkan Ibu Endang berniat untuk merawat mbah Sis di rumahnya sepeninggal suaminya yang meninggal dunia, namun mbah Sis tidak bersedia, karena sangat “ngeman” dengan rumahnya. Beliau ingin tetap tinggal dirumah yang ditempatinya hingga akhir usia.

Mbah Sis adalah sosok pribadi yang luhur budi. Di usia yang sudah sangat lanjut, jiwa sosial beliau juga sangat tinggi. Saat warga maupun ada kegiatan kampung membutuhkan tambahan tempat untuk suatu acara, beliau dengan tangan terbuka mempersilahkan rumah beliau untuk dipergunakan. Beliau buka selebar-lebarnya pintu pagar teralis besi dan pintu rumah hingga usainya keperluan warga dan kegiatan kampung. Selain itu, pribadi beliau juga “putih”. Apa yang beliau miliki, sedapat-dapatnya memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat. Tak ada rasa posesif atau “milik” dalam pribadi beliau. Saat peristiwa gempa bumi 27 Mei 2006 silam, sebagian besar rumah warga banyak yang roboh dan rusak berat. Rumah mbah Sis juga mengalami kerusakan, namun masih bisa ditempati. Warga yang rumahnya roboh akhirnya banyak yang menumpang di rumah mbah Sis hingga rumah mereka bisa ditempati kembali. Dia persilahkan siapa saja yang membutuhkan mulai dari tidur hingga urusan MCK.  Sungguh, keluhuran pribadi beliau sangat dirasakan oleh warga masyarakat di Kampung Karanganyar, terutama tetangga-tetangga dekatnya.

Dalam hal ibadah, mbah Sis adalah muslim yang taat. Pada bulan Ramadhan beliau selalu menyempatkan untuk shalat tarawih berjama’ah, meskipun dalam shalatnya beliau hanya bisa dengan duduk karena sudah tidak kuat berdiri. Hingga akhir hayat, beliau selalu menjaga shalatnya meskipun sudah tidak mampu lagi shalat berjama’ah di masjid atau musholla.

Hari Kamis, 28 Februari 2013 mbah Sis periksa kesehatan ke dokter di Rumah Sakit Wirosaban diantar oleh Ibu Sukarni. Selesai dari rumah sakit beliau pulang ke rumah dan masih bercanda dengan buyut beliau, cucunya Ibu Sukarni. Sore hari Ibu Sukarni mengantarkan cucunya pulang ke rumah dan kembali lagi ke tempat mbah Sis. Malam harinya, cucu mbah Sis (anak Ibu Endang) datang menjenguk mbah Sis dan masih ngobrol dengan mbah Sis hingga jam 21.00. Pukul 23.00 mbah Sis merasa tidak enak badan dan masuk ke kamar mau beristirahat. Belum sampai masuk kamar, mbah Sis terasa hendak BAB. Karena tidak enak badan, mbah Sis minta dipijat oleh Ibu Sukarni. Saat dipijat sambil berbaring miring secara tiba-tiba mbah Sis langsung duduk entah apa sebabnya, kemudian rebah lagi dengan posisi miring dan sudah tidak bergerak. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 23.50 WIB. Ditepuk-tepuk dan dibangunkan oleh Ibu Sukarni mbah Sis diam saja tidak bergerak. Lantas Ibu Sukarni  memanggil penghuni rumah yang juga menempati rumah mbah Sis di sebelah selatan. Saat itu, kaki dan tangan Mbah Sis sudah dingin, tetapi badan dan lehernya masih hangat. Mengetahui yang demikian, kemudian mbah Sis dibacakan surah Al Fatihah dan dituntun dengan kalimah-kalimah thoyibah di dekat telinga beliau. Hingga pukul 23.55 disimpulkan mbah Sis sudah dalam kondisi “lelaku”, karena nadi di tangan dan urat leher sudah tidak terasa berdenyut. Akhirnya setelah ditalqin beberapa saat dengan kalimah-kalimah thoyibah/tahlil, pukul 00.05 WIB mbah Sis betul-betul telah dipanggil Allah SWT, meninggal dunia dengan sangat tenang tanpa menyiratkan tanda-tanda khusus sebagaimana seseorang akan meninggal pada umumnya. Innaalillaahi wa inna ilaihi rooji’uun.

Jenazah mbah Sis disucikan pada pukul 02.00 dinihari dan dimakamkan di makam Karanganyar Yogyakarta disamping makam istri beliau, mbah Sa’adah, pada hari Jum’at, 1 Maret 2013 pukul 12.45 WIB setelah dishalatkan terlebih dahulu selepas shalat Jum’at di Masjid Al Irsyad Karanganyar.

SAM_1464 (Medium)Meninggalnya mbah Sis yang demikian cepat tanpa ada tanda-tanda yang mengindikasikan beliau sakit parah dan saat hendak meninggalnya beliau tanpa menyiratkan tanda-tanda khusus sebagaimana seseorang akan meninggal dunia pada umumnya bisa jadi itu merupakan karunia dari Allah SWT kepada mbah Sis. Proses sakaratul maut yang sangat mudah dan cepat mungkin adalah sebagai bentuk karunia Allah atas pribadi beliau semasa hidup yang penuh dengan kebersahajaan dan “nrimo” atas nikmat dan karunia dari Allah SWT. Bahkan beliau meninggal di hari Jum’at pada dinihari, hari yang dianggap paling baik bila seseorang meninggal dunia, karena Allah akan menjaganya dari fitnah kubur. Kita yang masih hidup hendaknya perlu memetik pelajaran dari kehidupan pribadi beliau sehingga akhir hayat kita pun diberikan kemudahan sebagaimana benang yang ditarik dari dalam tepung.

Dalam haru kami ucapkan Selamat Jalan mbah Sis. Semasa hidup engkau telah memberikan banyak pelajaran berharga kepada kami, warga masyarakat Karanganyar. Alangkah bahagia anak yang memiliki Ayah sepertimu. Semoga engkau tersenyum bahagia di alam sana dengan segudang amal kebaikan yang engkau lakukan dikala hidupmu dan Allah memberikan ampunan atas dosa dan kesalahanmu. Amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s