Pisowanan Agung HUT Kota Yogyakarta

IMG_20131007_170246 (Medium)

Tanggal 7 Oktober adalah Hari Ulang Tahun Kota Yogyakarta dan pada tahun 2013 Kota Yogyakarta genap berusia 257 Tahun. Dalam rangka memperingati HUT Ke-257 Kota Yogyakarta tersebut, ribuan warga Kota Yogyakarta melakukan “Pisowanan Agung” kepada Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Kegiatan diawali dengan pawai budaya 45 kelurahan dari Taman Parkir Khusus Ngabean menuju Pagelaran Keraton Yogyakarta, tempat berlangsungnya pisowanan agung.

Sebelum acara dimulai, dipersembahkan sebuah tari kolosal yang menceritakan berdirinya Kota Yogyakarta yang pada waktu itu masih dalam zaman penjajahan Belanda. Yogyakarta berdiri semenjak Sri Sultan HB I mendirikan Kerajaan Mataram di Kasultanan Yogyakarta. Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua: Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah. Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta).

Setelah seluruh warga berkumpul di Pagelaran Keraton, Wakil Wali Kota Yogyakarta Imam Priyono yang memimpin rombongan masyarakat menyerahkan “ulubekti” atau seserahan ke Sultan Hamengku Buwono (HB) X di antaranya berupa jajan pasar, kelapa dan burung merpati.

Wakil Walikota yang memimpin dengan mengenakan pakaian tradisional Yogyakarta itu berharap, hari ulang tahun ke-257 Kota Yogyakarta dapat dijadikan tonggak untuk pembangunam kota yang lebih baik lagi.

Dalam menerima Ulubekti dari Wakil Walikota Yogyakarta, Sultan menyatakan bahwa “Ulubekti ini pada dasarnya saya terima. Tetapi di zaman sekarang, hal-hal seperti itu bisa dikategorikan sebagai gratifikasi. Oleh karenanya, perlu kebijaksanaan lebih lanjut dari wakil wali kota,” katanya.

Sultan yang datang dengan setelan jas lengkap kemudian menyampaikan “sabdatama” terkait hari ulang tahun Kota Yogyakarta yaitu harapannya agar Kota Yogyakarta bisa berkembang sebagai kota yang humanis.
8255_18339“Pembangunan fisik di dalam era modern seperti saat ini memang tidak bisa dielakkan. Namun, pembangunam tidak boleh dilakukan dengan menggeser ruang-ruang publik yang ada,” katanya.

Pembangunan yang dilakukan dengan orientasi material semata, lanjut dia, justru akan menimbulkan “kekosongan” di tengah masyarakat karena warga tidak akan bisa saling berinteraksi.

“Pembangunan harus dikembalikan ke arah yang benar sehingga tercipta karakter kota yang humanis. Prosesnya boleh jadi sangat panjang, namun harus tetap dilakukan bukan justru berhenti,” katanya.

Kegiatan “pisowanan agung” tersebut merupakan puncak dari serangkaian acara peringatan hari ulang tahun Kota Yogyakarta. Sebelumnya, warga di tiap kelurahan sudah menggelar berbagai kegiatan budaya, dan pada Minggu (6/10) telah digelar panggung pesta rakyat di sepanjang Malioboro.

Prajurit IMG_20131007_161452 (Medium) IMG_20131007_170358 (Medium)IMG_20131007_165357 (Medium)IMG_20131007_170308 (Medium)IMG_20131007_165647 (Medium)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s