Sejarah

RIWAYAT SINGKAT BERDIRINYA KAMPUNG KARANGANYAR

Pada tanggal 13 Maret 1755 (Jumadilawal tahun BE. 1681) diumumkan berdirinya Negara Ngayogyakarto dengan Kepala Negara Sri Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalogo Ngabdulrahman Sayidin Panoto Gomo Khalifatullah I Ing Ngayogyokarto. Tumenggung Yudonegoro Bupati Banyumas diangkat menjadi Patih I dengan gelar Patih Danurejo I. Dengan mengatasi berbagai macam kesukaran, Sri Sultan Hamengku Buwono I memilih hutan Pabringan yang pusatnya sekarang menjadi pasar Beringharjo pasar besar Yogyakarta untuk mendirikan Kraton Mataram. Pada waktu itu Sri Sultan masih bersemayam di desa Ambarketawang Gamping.

Yang dedukuh di hutan Pabringan pada waktu itu ialah Kyai Amat Yojo yang tempat dedukuhnya kemudian dibuat kraton. Setelah dedukuhnya diminta oleh Sri Sultan supaya pindah disebelah barat sungai Code dengan babat hutan. Pada waktu itu belum ada desa maka setelah menjadi desa dinamakan desa Karanganyar dan Kyai Amat Yojo berganti nama menjadi Kyai Tesmin. Karena Kyai Tesmin itu besar jasanya kepada Negara, maka nama Kyai Amat Yojo diabadikan menjadi nama Negara oleh Sri Sultan yaitu Ngayogyokarto. Sebagai imbalannya, maka Kyai Tesmin I diberi kemerdekaan sawah dan tanah menjadi hak milik dan bebas dari bulu bekti.

Kyai Tesmin I mempunyai guru yang bernama Kyai Syeh Madyo Agung. Syeh Madyo Agung meninggalnya sedekung ditepi jalan ditemukan oleh Kyai Tesmin I sebagai anak muridnya lalu dikuburkan oleh Kyai Tesmin I. Karena meninggalnya Syeh Madyo Agung itu sedekung seperti kintel, maka kuburannya dinamakan Kintelan yang sampai sekarang nama Kintelan itu masih menjadi nama Kuburan Kintelan dan Kampung Kintelan (di makam beliau tertulis Syeh Mojo Agung). Kyai Tesmin I wafat dimakamkan juga di makam Kintelan untuk mengikuti gurunya, demikian juga sampai dengan Kyai Tesmin II. Kyai Tesmin III menganggap keluarganya banyak, lalu mendirikan kuburan di tanah suwung di desa Karanganyar untuk keluarganya. Kyai Tesmin III meninggal lalu dimakamkan di makam Karanganyar dan seterusnya untuk keluarganya.

Pada masa Kyai Tesmin IV terjadi percekcokan hal warisan, beslit Kemerdekaan dicuri dan kemudian dibakar, setelah itu kemerdekaan dihapuskan oleh Pemerintah yang memegang kekuasaan. Keturunan Tesmin yang diangkat menjadi Bekel dan kemudian makam/kuburan juga dipegang oleh Kebekelan.
Pada tahun 1922 di Karanganyar timbul gerakan Rukun Kampung yang mempunyai gerakan antara lain:

1. Mengumpulkan Bekakas
2. Ronda Kampung
3. Kematian

Pada saat itu juga Kebekelan dihapuskan oleh Pemerintah, lalu Kuburan diperebutkan oleh waris Kebekelan dengan Juru Kunci Makam. Setelah itu kuburan dipegang oleh Penewu Kraton yang mengurusi Kepala Kampung Brontokusuman. Pada tahun 1942 Tentara Dai Nippon mendarat dan menduduki kota Yogyakarta dan mendirikan Temarigumi di kampung-kampung. Gerakan Rukun Kampung Karanganyar menjelma menjadi Temarigumi yang mendapat perlindungan dari Pemerintah Dai Nippon. Pada waktu itu gerakan Temarigumi memperjuangkan soal kuburan dan hasilnya kuburan dapat diserahkan kembali kepada Temarigumi Karanganyar.

Pada tahun 1945 (17 Agustus 1945) Negara kita memproklamasikan Kemerdekaan menjadi Negara yang merdeka. Sisa-sisa dari warisan Jepang dihapus dan Gerakan Temarigumi menjadi gerakan Rukun Kampung yang disingkat RK. RK sebagai organisasi masyarakat yang membimbing rakyat kearah keamanan dan kemakmuran. Akhirnya kuburan Karanganyar tetap dipegang oleh RK yang hasilnya juga untuk menyumbang keperluan RK. (Sumber Tulisan: Catatan Keluarga Raden Anom Widjojo)

Lembaga Rukun Kampung ini berakhir pada tanggal 31 Januari 1989 dan pada tanggal itu pula secara serentak 618 Ketua RW di Kotamadia Yogyakarta dikukuhkan. Sebagai konsekwensi adanya Peraturan Pemerintah yang mengakhiri Lembaga Rukun Kampung, maka Kampung Karanganyar akhirnya terbagi menjadi 4 wilayah Rukun Warga (RW). Wilayah di selatan makam Karanganyar terbagi menjadi 2 RW, yaitu RW 16 di bagian paling selatan dan RW 17 di utaranya. Sedangkan wilayah di utara makam terbagi menjadi 2 RW pula, yaitu RW 18 dan RW 19. Namun demikian, meskipun secara teritorial telah terbagi menjadi beberapa RW, sistem sosial dan budaya masyarakatnya masih menjadi satu kesatuan yang utuh dalam lingkup Kampung Karanganyar tanpa mengenal batas wilayah Ke-RW-an. Demikian yang dikehendaki oleh para tetua/sesepuh Kampung pada waktu itu.

9 responses to “Sejarah

  1. Ping balik: Perlunya Majelis Permusyawaratan Kampung | RW 16 Karanganyar, Kampung Hijau & Ramah Anak

  2. Ping balik: Perlunya Majelis Permusyawaratan Kampung (MPK) | RW 16 Karanganyar, Kampung Hijau & Ramah Anak

    • Wadouw,… kalo dibikin lebih detil lagi takutnya malah keliru. Apa yang tertulis itu otentik, sesuai aslinya yang dalam bentuk tulisan tangan dan diwariskan turun temurun. Jadi itulah catatan sejarah yang ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s